Tata Krama Bertamu dan Menghormati Tamu



bertamuTamu bertamu merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Menghormati tamu dalam ajaran Islam merupakan sebuah kewajiban. Seperti hal yang kewajiban yang lainnya, jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Batas kewajian menghormati tamu adalah 3 hari, selebihnya menjadi shodaqoh.
Landasan kewajiban menghormati tamu ada dalam QS 51 ayat 24-27, dan hadits nabi yang menyatakan bahwa tanda keimanan seseorang kepada Alloh dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.
Beberapa catatan terkait dengan tata krama menghormati tamu adalah sebagai berikut:
#1. Saat tamu memberi salam dan memasuki rumah, hendaknya tuan rumah menjawab salam dengan cepat dan mengizinkan tamu masuk rumah.  Sertailah senyuman dan raut muka yang hangat. Jangan menerima tamu dengan rasa terpaksa, sebaliknya harus ikhlas dan lapang dada.
#2. Berilah suguhan makan atau minum terbaik dengan sembunyi, tanpa ketahuan tamunya. Nabi Ibrahim mencontohkan saat menerima tamu, ia mengambil dan memasak kambing muda kesukaannya, lalu menyuguhkan ke tamunya. 
#3. Melayani tamu dengan baik dan perkataan yang lemah lembut. Mendekatkan makanan ke depan tamu. Hindari tamu datang untuk mengambil makanan itu.
Jika menjadi tamu, dianjurkan tidak memberatkan orang yang akan dikunjung. Nabi bersabda, “Tidak halal seorang muslim tinggal di saudaranya, sehingga saudaranya berdosa”. Maksudnya orang yang dikunjungi tidak bisa memberikan sesuatu yang terbaik kepada tamu, karena ia tidak punya apa-apa untuk disuguhkan.
Hal lain yang dianjurkan saat dijamu makanan oleh tuan rumah, seorang tamu hendaklah mendo’a tuan rumah, dengan kalimat: “Ya Alloh berikanlah keberkahan dari rizki yang telah Engkai berikan kepadanya, ampunilah dan sayangilah mereka”.
Kultum, Mesjid PT. Toyota Astra Motor, 2 September 2010