ADAB SEORANG MURID

ADAB SEORANG MURID


Maka adab seorang murid terhadap dirinya dan pelajarannya seperti adab seorang guru : dan kami telah jelaskan hal tersebut :
1. Hendaknya ia selalu membersihkan hatinya dari berbagai kotoran agar baik dalam menerima ilmu dan penjagaannya serta buah dari ilmu tersebut. Dan dalam shahihain dari Rasululloh sAllohu alaihiwasallam : sesungguhnya dalam badan ada segumpal daging, jika baik daging tersebut maka baiklah seluruh badannya, dan jika rusak rusaklah seluruh badannya, ketahuilah ia adalah hati”. Dan mereka berkata : membersihkan hati agar bisa menerima ilmu seperti membersihkan bumi untuk ditanami.
2. Dan Hendaknya memutus hubungan yang menyibukkan dari kesempurnaan dalam mendapatkan ilmu, dan ridho dengan sedikit dari makanan serta bersabar dari kesempitan hidup.
Berkata Asy Syafi’I rahimahullah : Tidaklah seseorang mencari ilmu ini [ ilmu diin ] dengan kekayaan dan kemuliaan jiwa dan mendapatkan keberuntungan. Akan tetapi barang siapa mencarinya dengan kehinaan diri dan kesempitan hidup dan berhidmat terhadap ‘ulama ia akan mendapat keberhasilan. Dan berkata juga : tidaklah ilmu didapatkan kecuali dengan kesabaran dan kehinaan. Dan beliau juga berkata : tidaklah pencari ilmu itu akan berhasil kecuali dengan kebangrutan, dan dikatakan : dan tidak pula kekayaan serta kecukupan. Dan berkata Malik bin Anas rahimahullah : Tidaklah seseorang mendapatkan ilmu din ini dengan apa yang ia inginkan sampai ia tertimpa kefakiran dan akan mempengaruhi kefakiran tersebut pada segala sesuatu. Dan berkata Imam abu hanifah rahimahullah : Kefakiran akan menolong segala cita-cita. Dan memutus segala ikatan [ duniawi ] dengan mengambil sedikit tanpa menambah juga akan menolongnya.
Dan berkata Ibrahim al Ajurri : Barangsiapa mencari ilmu dengan kefakiran akan diberikan kefahaman. Dan berkata Khotib al baghdadi dalam kitabnya al jaami’u liaadabil ar roowi was saami’ : Disunnahkan bagi pencari ilmu untuk membujang jika itu memngkinkannya supaya tidak ia putus kesibukannya dengan hak-hak istri dan konsentrasi dengan mencari ma’isyah sehingga memalingkan dia dari kesempurnaan dala mencari ilmu. Dan berhujjah dengan hadist : sebaik-baik kalian setelah sedikitnya harta adalah seorang yang tidak memiliki keluarga dan anak.
Dari Ibrahim bin ‘Adham rahimahullah : Barang siapa terbiasa di paha wanita tidaklah beruntung, yaitu tersibukkan dengannya. Dan ini terjadi pada kebanyakan manusia termasuk orang-orang yang khusus. Dan dari Sufyan At Tsauri : Jika seorang faqih menikah maka ia telah mengarungi lautan, maka jika telah memiliki anak pecahlah kapal tersebut.
Dan berkata Sufyan terhadap seseorang : Apakah engkau telah menikah ?. kemudian ia berkata : belum. Tidaklah engkau tahu bahwa engkau dalam ampunan / kebaikan.
Dan dari Bisyr Al Hafi rahimahullah : barang siapa yang tidak membutuhkan wanita [ nikah ] hendaklah ia bertaqwa pada Alloh, dan janganlah engkau terikat dengan kesibukan terhadapnya.
[ aku katakan ] pendapat semua ini sama dengan madzhab kami, bahwa madzhab kami berpendapat siapa saja yang belum begitu butuh menikah disunnahkan baginya mengakhirkannya, demikian pula jika ia sudah berkehendak menikah akan tetapi lemah untuk memikul beban pernikahan. Dan di dalam shahihaini dari Usamah bin Zaid semoga Alloh meridhoi keduanya dari nabi sallAllohu ‘alaihi wasallam berkata : Tidaklah aku tinggalkan setelahku satu fitnah yang lebih bahaya atas laki-laki dari seorang wanita. Dan dalam shshih Muslim Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra,dia berkata bahawa Rasululloh saw bersabda,”Sesungguhnya dunia ini manis dan mempersona,sedangkan Alloh menugaskan kamu di dalam nya,maka Dia hendak melihat bagaimana kamu berbuat. Kerana itu takutlah terhadap (fitnah/godaan) dunia dan takutlah terhadap (fitnah) wanita” (HR Muslim)

3. Dan hendaklah ia tawadhu’ terhadap ilmu dan guru, dengan ketawadhu’an ia akan mendapatkan ilmu. Dan kita telah diperintahkan untuk bertawadhu’ dalam berbagai hal, dan tawdhu’ dalam hal ini lebih ditekankan lagi. Dan mereka telah berkata : Ilmu adalah musuh bagi orang-orang yang sombong. Seperti banjir musuh tempat yang tinggi. Dan hendaklah ia mengangkat gurunya dan bermusyawarah dalam urusan-urusannya dan melaksanakan perintahnya sebagaimana orang yang sakit mengangkat dokter yang pandai dan selalu memberi nasehat. Dan ini lebih mulia karena ada kesamaan antara keduanya.
4. Mereka berkata dan janganlah mengambil ilmu kecuali dari orang yang telah sempurna keilmuannya, dan nampak kebaikan dinnya, dan telah sempurna pengetahuannya, dan telah terkenal penjagaan dan kepemimpinannya.
5. Mereka berkata dan janganlah mengambil ilmu dari orang-orang yang mengambil ilmunya hanya dari buku-buku tanpa dibacakan kepada seorang syaikh atau syaikh yang pandai. Maka barang siapa yang tidak mengambil ilmu kecuali dari buku akan terjerumus dalam kesalahan [pengucapan] dan banyak darinya kerumitan dan penyimpangan.
6. Dan hendaknya melihat gurunya dengan rasa hormat, dan berkeyakinan atas kesempurnaan dan kepandiannya dalam berbidang. Maka ia akan dapat lebih banyak mengambil manfaat serta mengilmui apa yang ia dengarkan dari gurunya dalam ingatannya. Bahwa orang-orang dahulu jika pergi pada gurunya bershodaqah dengan sesuatu. Dan berdo’a : Ya Alloh semoga engkau menutupi ‘aib guru saya dariku, dan janganlah engkau jauhkan barokah ilmunya dariku.
7. Dan diantara adab murid hendaknya memilih ridho guru walaupun menyelisihi pendapatnya. Dan tidak mencela dihadapannya. Dan tidak menyebarkannya secara sembunyi-sembunyi. Dan hendanya membantah aibnya jika ia mendengarnya. Jika ia lemah hendanya ia berpisah dari majlis.
8. Dan janganlah masuk kecuali dengan izinnya. Dan jika masuk satu kelompok hendaklah mendahulukan yang lebih utama dan lebih tua.
9. Dan hendaklah masuk dengan keadaan yang paling baik, kosongnya hati dari berbagai kesibukan, bersih dengan siwak, memotong kumis, serta menghilangkan bau yang tidak sedap.
10. Dan memberikan salam terhadap seluruh hadirin dengan suara yang bisa diderkan seluruh ruangan. Dan menghususkan terhadap syaikhnya sebagai tambahan penghormatan, demikian pula memberi salam ketika keluar majlis. Dan dalam sebuah hadist ada perintah tentang hal tersebut serta tidaklah berpaling pada siapa saja yang mengingkarinya. Dan telah kami permasalaahn ini dalam kitab al adzkar.
Imam An Nawawi memberi judul pada kitab Riyadhus Sholihin Bab 138
Haramnya Kita Memulai Bersalam Kepada Orang-orang Kafir Dan Caranya Menjawab Salam Kepada Mereka Dan Sunnahnya Mengucapkan Salam Kepada Orang-orang Yang Ada Di Dalam Majlis Yang Di Antara Mereka Ada Kaum Muslimin Dan Kaum Kafirin
863. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasululloh s.a.w. bersabda: “Janganlah memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan jangan pula kepada orang Nasrani. Maka jikalau engkau semua bertemu dengan salah seorang di antara mereka itu – yakni orang Yahudi atau Nasrani- pada suatu jalanan, maka paksakanlah kepada mereka itu untuk melalui yang tersempit dari jalan itu.” (Riwayat Muslim)
864. Dari Anas r.a., katanya: “Rasululloh s.a.w. bersabda: “Jikalau ada golongan ahlulkitab – iaitu orang Yahudi atau Nasrani – memberi salam kepadamu semua, maka ucapkanlah: Wa’alaikum.” (Muttafaq ‘alaih)
865. Dari Usamah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. berjalan melalui suatu majlis – pertemuan, yang di dalamnya terdapat berbagai campuran antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin iaitu para penyembah berhala dan ada pula orang Yahudi, lalu Nabi s.a.w. memberikan salam kepada mereka.” (Muttafaq ‘alaih)